hobby Hits: 358

Article Index

Ayam bekisar adalah hasil perkawinan antara ayam hutan hijau jantan (Gallus varius) dan ayam kampung/ayam buras betina (Gallus gallus domesticus).

Ada tiga tipe ayam bekisar, yaitu:

1. Gallus aenus yang berjengger bergerigi 8 kecil, pial berukuran sedang, warna bulu pada lapisan atas ungu dengan plisir kuning emas.
2. Gallus temminckii memiliki jengger bergerigi enam, pial berwarna jambu, bulu merah mengkilap dan berplisir merah kecoklatan.
3. Gallus violaceus dengan jengger bergerigi bagus, ukuran pial sedang, warna bulunya ungu dengan permukaan yang halus.

Ayam bekisar memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan ukuran ayam kampung jantan, tetapi lebih besar daripada induk jantannya. Warna bulunya hitam kehijauan dan mengkilap. Memiliki suara yang halus dan khas: tersusun dari dua nada.

Ayam bekisar, karena ia hasil persilangan antara dua jenis yang berbeda, biasanya mandul. Namun, tidak semuanya demikian. Ada pula ayam bekisar (jantan atau betina) yang bila dikawinkan dengan ayam kampung menghasilkan keturunan.

Ciri-ciri khusus dari ayam bekisar yang paling menonjol adalah bentuk bulu leher yang ujungnya bulat/lonjong bukan lancip. Jika dibandingkan dengan ayam jago biasa maka akan terlihat jelas. Bentuk ayam yang mirip sekali dengan bekisar adalah hasil silangan ayam bekisar dengan ayam kampung yang dinamakan bekikuk. Bentuk dan posturnya sama, hanya kadang-kadang pial dan bulu lehernya yang berbeda.

Ayam bekisar merupakan hewan khas Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, hewan ini merupakan fauna maskot provinsi Jawa Timur. Sumber  https://id.wikipedia.org/wiki/Ayam_bekisar

Sesuai penjelasan di atas bahwasanya ayam bekisar adalah hasil persilangan dari ayam hutan hijau dengan ayam kampung, induk ayam hutan milik saya berasal dari daerah bojonegoro, waktu itu awal nya adalah permintaan dari rekan saya yang minta di carikan ayam hutan hijau, akhirnya saya pun meminta tolong kepada tetangga di rumah yang hobby dengan hewan hean unggas untuk di carikan di kampung nya di daerah bojonegoro.

Bulan Juli 2019, ayam hutan saya datang dari kampung, dan ternyata ayam yang di bawakan oelh tetangga saya adalah ayam yang masih anakan karena untuk ayam hutan yang sudah besar jika hasil tangkapan dari hutan akan susah sekali di pelihara (mati karena tidak mau makan, atau pecah kepalanya karena nabrakin kandang) dan ketika saya sampaikan ke rekan saya kalau ayam nya sudah ada tapi masih anakan beliau keberatan untuk memeliharanya karena terlalu kecil, saya sendiri karena sudah terlanjur saya yang pesan ke tetangga saya akhirnya pesanan tersebut saya beli juga seharga 500 Ribu Rupiah 2 Ekor ( harapanya sepasang, jantan dan betina ).


Menginjak usia dewasa, ternyata kedua ayam hutan saya tersebut ternyata adalah Jantan semua nya dan mulai tidak akur dalam satu kandang sehinga harus pisahkan keduanya. Kandang awal adalah kandang kecil bekas burung Kenari saya, dan kandang baru buat Upin dan ipin nama kedua ayam saya tersebut karena sama sama berjenis kelamin Jantan, saya gunakan kandang kucing, sampai sekarang. Meskipun sudah cukup lama saya pelihara, ayam tersebut tetap memiliki sifat liar. walaupun saya pelihara dari kecil dan sudah akrab dengan keluarga saya, jika ada orang yang tidak biasa ke rumah, ayam tersebut akan grabak grubuk ...seperti ketakutan.